Laman

Assalamu'alaikum :)


"Terima kasih sudah menyempatkan untuk mampir ke blog saya *_*
Salam santun Ukhuwah islamiyah ^_^

Jumat, 09 November 2012

Guru VS Murid


Cara Mengatasi Anak Didik yang Nakal




Terkadang dalam kegiatan belajar mengajar terdapat salah satu anak yang berbuat iseng / nakal di dalam kelas / sekolah . jangan sampai kita sebagai pendidik salah dalam menangani hal tersebut karena akan berdampak kepada anak didik kita bahkan hingga mereka dewasa . ada beberapa cara yang dapat kita lakukan sebagai guru untuk mengatasi anak didik kita yang nakal di kelas / sekolah yaitu :
1.      Beri mereka tanggung jawab
Banyak hal yang membuat anak didik kita menjadi nakal di kelas salah satunya karena mereka tidak memiliki sesuatu hal yang dapat menyibukkan diri mereka maka dengan diberikan tanggung jawab misal seperti mencatat siswa yang nakal dikelas , menjadi ketua kelas , atau hanya sekedar menghapus papan tulis . hal ini cukup mampu untuk “menjinakkan” mereka.
2.      Beri mereka perhatian lebih
Terkadang kenakalan / kegaduhan yang mereka lakukan sebenarnya semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatian dari kita . maka ada baiknya kita bercengkrama dengan mereka barang se menit saja untuk menunjukkan perhatian kita dan mengetahui penyebab problem dari anak tersebut sehingga anak tersebut merasa diperhatikan dan kita bisa menemukan solusi dalam menangani anak tersebut.
3.      Menciptakan kegiatan pembelajaran yang kreatif dan menarik
Dengan kegiatan pembelajaran yang menarik akan membuat anak didik yang nakal menjadi tertarik dan mengikuti pelajaran dengan antusias . karena kebanyakan anak didik kita melakukan kenakalan di kelas dikarenakan pembelajaran yang membosankan atau juga anak tersebut tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru . maka tugas kita adalah untuk menciptakan KBM yang menarik dan aktif namun tetap dapat membuat anak didik memahami materi yang diajarkan sehingga antusiasme anak didik kita terhadap pelajaran kita tinggi .
4.      Buat peraturan yang jelas di dalam kelas
Hal ini penting mengingat jika tidak ada peraturan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan di dalam kelas siswa dapat lepas kendali . sebaiknya kita libatkan siswa dalam membuat peraturan tersebut . hal ini lebih efektif dibandingkan kita membuat sendiri peraturan tersebut. Sehingga ketika terjadi kesalahan murid tersebut bisa mengetahui kesalahannya dan memperbaikinya.

Beberapa cara tersebut mampu mengatasi perilaku nakal murid yang nakal di dalam kelas / sekolah . sangat mengharapkan kritik dan saran guna menambah wawasan dalam mendidik siswa kelak .

Cantik Hati Lebih utama


• Renungan Hikmah

Di pagi yang cerah seorang gadis  bertanya kepada ibunya: “Ibu, Engkau selalu terlihat cantik, Aku ingin sepertimu. Dengan tatapan dan senyum haru, Sang Ibu menjawab :
“Untuk bibir yang menarik, Ucapkan perkataan yang baik,
Untuk pipi yang lesung, Tebarkan senyum ikhlasmu di muka bumi,
Untuk mata indah menawan, Lihatlah selalu kebaikan orang lain,
Untuk tubuh yang langsing, Sisihkan makananmu bagi fakir miskin,
Untuk jemari yang lentik menawan, Hitunglah do’a dan pujianmu mengagungkan-Nya,
Untuk wajah putih bercahaya, Basuhlah muka dengan Air wudhu disetiap pergantian waktu.
Anakku, kecantikan fisik akan Pudar oleh mengalirnya waktu,, Namun Kecantikan Perilaku Dan Akhlak Tak Kan Pudar meski oleh Kematian.





Wanita Shalehah Perhiasan Dunia


Hay Guys, Assalamualaikum,, 

zaman sekarang kayaknya susah banget yaah buat dapetin predikat sebutan“Wanita Shaleha”, kita gak bisa tuh hanya melihat tampilan luar seseorang. Yukks mariii, kita lihat Ciri-ciri Kepribadian wanita Shaleha itu kayak gimana yaaa:
A. Perkataan, Pikiran, dan Perkataannya selalu positif
Ia tidak menyia-nyiakan waktu untuk berkata yang tidak bermanfaat. Tidak ada dalam sejarahnya, Wanita Sholeh berkata ketus dan pedas yang memerahkan telinga siapapun yang mendengarnya. Sebaliknya, ia tidak banyak berkata-kata kecuali untuk kebaikan. Kata-katanya yang positif merupakan cerminan dari apa yang ada dalam kepalanya.
B. Murah Senyum
Bagi wanita shaleha, Senyum adalah Sedekah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyum manis. Senyumnya Ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.
C. Menjaga Akhlak
Wanita shaleha pandai bergaul namun tidak larut dalam pergaulan yang melenakan. Kemampuannya sangat kuat untuk menjaga rasa malu. Ia mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang ditemuinya. Ia selalu yakin bahwa yang patut ia jaga adalah kekuatan hubungannya dengan Allah swt., karena jika keterikatan itu semakin kuat akan membuahkan kebaikan bagi dirinya dan orang lain.
D. Menghindari Fitnah
Wanita Shaleha menyadari  kecantikan bisa menimbulkan fitnah. Kecantikan suatu saat bisa menjadi anugerah, tapi jika tidak hati-hati, Kecantikan bisa juga menjadi sumber masalah yang akan menyulitkan bagi pemiliknya, karena itu Prinsipnya adalah taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
E. Tidak Berputus Asa
Jika tidak cantik atau memiliki keterbatasan fisik, wanita shaleha tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia menyadari bahwa rasa kecewa atau sakit hati adalah bagian dari Kufur Nikmat, Naudzubillah min dzalik.. (jangan sampai donk kita seperti itu !!) Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: 
……."Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S Ibrahim-7)

                    ia tidak akan merasa minder dengan keadaan dirinya. Ia tidak pernah berputus asa atas rahmat Allah. keyakinan begitu kuat bahwa segala sesuatu yang dimilikinya atau didapatnya adalah ketentuan Allah yamh baik untuk dirinya. Karenanya, ia selalu memaksimalkan diri dalam Ikhtiar dan bekerja keras dalam menjalankan ibadah.
F. Mendahulukan orang lain
Bila menjadi seorang Istri, Wanita shaleha sangat pandai membangkitkan selera suaminya, dan mendahulukan kepentingan suaminya. Ia belum tidur sebelum suaminya tidur. Bila berada dilingkungan social, ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya.

Nah lhoo,, gimana tuh kita sudah termasuk belum yah ke salah satu ciri tersebut, kalau belum ayoo mari sama-sama mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri dan mulai dari hal kecil, kan lama-lama kita akan terbiasa kalau ada niatan yang tulus dari dalam hati,,Insya Allah.. okeee


   


Bismillahirrhmanirrohim,,

             Tugas itu sudah ku emban, walau hanya mungkin kalian katakan itu tag seberapa ,, namun begitu besar tanggung jawab yang ku pegang,, karena bukan hanya tanggung jawab ssama manusia tapi juga tanggung jawab kita kepada Sang Khalik,, walau terik matahari telah siap membakar kulitku, dan hujan yang akan membahasi sekujur tubuhku, meski itu jalan yang ku lewati setiap harinya... bukan mudah untuk merubah kepribadian, ataupun moral mereka,, bagi ku itu justru SAngatlah Sulit.... aku terus mencoba berada di jalan yang ku pilih karena Tuhanku,, bukan kah ini telah termasuk Jihad Fisabilillah ??yahh,, walaupun kau tak ikut berperang seperti zaman dahulu kala,seperti pada Zaman Rasulullah SAW, dan seperti Khalid bin Walid yang dijuluki pedang Allah yang rendah hati, ataupun seperti Sultan Mehmed II penakluk konstantinopel dan vlad dracula,,, mungkin terlalu tinggi untuk seperti Beliau-beliau yang mana Kemuliaan Allah beserta dengan nya... namun itu tag menyurut kan langkah ku tug bisa seperti mereka banyak cara dalam mensyiarkan, dalam mendakwahkan segala perintah ALLAH dan menjauhi sgala larangan Nya,,, dan mungkin dengan inilah salah satu jalan yang Tuhan berikan... Walau dari hal kecil semoga bisa menjadi suatu hal yang luar biasa besar nantinya...   aku tak ingin,, nilai-nilai agama itu hanya sekedar tersirat dalam lembaran kertas saja , atau hanya sekedar materi saja,, karena bukan itukah tujuan akhir dari Pendidikan islam itu,,, itu hanya kosong belaka jika hanya tak ada pengamalan dari dasar hati......
           Meski Panggilan jiwa itu terlambat merasuk dalam nurani ku,, namun aku yakin tiap manusia dan termasuk aku punya potensi masing-masing ,, aku yakin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah buat Aku dan kami semua, jika kita terus ada niat dalam kebaikan...
          dan terlebih yang ku takutkan pabila,,, setiap hari bergulir hari demi hari apa yang ku ajarkan buat mereka, tak ku kerjakan dalam kehidupan, begitu Naif dan Munafikk,,,, "Kamu ajarkan mereka tug solat 5 waktu, tapi toh engkauuu sendiri tak ayalnya, tak mengerjakan suatu kewajiban ituu,,,," ,, Naudzubillahi mindzalik .... akutak ingin menjadi sperti itu TUHAN Ya Robb,, ajarkan kan lah aku agar aku selalu istiqomah dijalan kebenaran-Mu,,, Aamiin :)



                                                                                                               share , 10 Nov 2012 ^_^

                                                                           
<

Senin, 05 November 2012

Spchleess,, ketika q rasakan itu ,, tiba tiba hati qu bertekad kuat akan keyakinan yang telah tepatri dalam lubuk jiwaku tanpa meninggalkan secercah bayangan punn.... akuuuu iniiiii siapa? aku ini diriku sendiri? Kau bisa, pasti bisaaa,,,,suara yang menggema dalam ruang kosong itu terus mendayu-dayu terdengar,,,,.. akuuu yang kadang menahan air mata ini tuk jatuh d saat ku tag tahan akan cercaan orang sekitar, dan terkadang celaan yang telontar satu demi satu ku simpan saja dalam celah hati ini,, hanya TUHAN yang tahu dan bisa mendengar kan kata hati qu...Laa illa ha illa-anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin...sebait doa itu pun yang tulus aku lantunkan berSerah hanya Pada MU Ya Rabbi ...

Selasa, 14 Agustus 2012

Sayyidul Istighfar

Allahumma anta Rabbi la ilaha illa anta khalaqtani, wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika ma-statha’tu, a’udzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bini’matika ‘alayya wa abu’u bidzanbi fa-gfir li, fainnahu la yaghfirudz-dzunuba illa anta
Artinya
Allahumma anta Rabbi la ilaha illa anta khalaqtani, wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika ma-statha’tu, a’udzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bini’matika ‘alayya wa abu’u bidzanbi fa-gfir li, fainnahu la yaghfirudz-dzunuba illa anta
Artinya
Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, yang tiada Tuhan pantas disembah melainkan Engkau. Tuhan yang telah menciptakan diriku. Aku adalah hamba-Mu dan aku ada dalam perjanjian-Mu, yang dengan segala kemampuanku aku laksanakan perintah-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari segala perbuatan buruk yang aku lakukan kepada-Mu. Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku, sedangkan aku senantiasa berbuat dosa. Ampunilah dosaku karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim)
Rasulullah membiasakan membaca doa itu dan beliau menyebutkan sebagai Sayyidul Istighfar atau Raja Istighfar. Bahkan, Rasulullah menegaskan, barangsiapa yang membaca sayyidul istighfar pada sore hari dan hamba Allah itu meninggal pada malam harinya hingga terbit matahari ia berhak masuk surga. Barangsiapa yang membaca sayyidul istighfar pada malam hari, kemudian hamba Allah itu meninggal pada siang hari (mulai matahari terbit hingga terbenamnya) ia berhak masuk surga.


Filsafat Pendidikan Islam


MANUSIA DAN PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
Oleh : Nurul Huda (10210115)

       I.            PENDAHULUAN
Manusia adalah Makhluk yang diciptakan oleh Allah dalam keadaan sebaik-baiknya, yang terdiri dari unsur jasmani, unsur akal, dan unsur rohani. Ketiga unsur tersebut sama pentingnya untuk di kembangkan. Menjadi Keharusan Manusia untuk bisa memanfaatkan dan mengembnagkan apa yang telah Allah fithrahkan kepada manusia. Menurut Samsul Nizar dalam bukunya bahwa Manusia itu diciptakan oleh Allah Swt. Bukan secara main-main, melainkan dengan tujuan dan fungsinya.[1]
Sedangkan Pendidikan merupakan Suatu Proses Usaha sadar yang dilakukan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang mana kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabi’at seseorang. Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, dengan adanya pendidikan, terutama pendidikan islam yang mana telah termaktub di dalam Al-Qur’an, yaitu dapat membentuk kepribadian sebagai Khalifah Allah atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir manusia.
Namun terkadang Manusia belum sepenuhnya terbangun akan mimpi buruknya, yang masih tak menghiraukan apa tujuan akhir dari kehidupan ini. Dan tak terlepas dari rangkaian kegiatan manusia yang  dari sejak lahir telah di suap dengan pengetahuan dari sejak kecil dan bergulir ke dalam pendidikan. Maka dari itu, Manusia dan Pendidikan akan mencapai klimaks apabila kita sebagai subjeknya selalu berpedoman atau berpegang teguh pada Sandaran Umat Islam, yaitu Al-Qur’an. maka dari itu kami sebagai makalah akan memaparkan tema yang berjudul “Manusia dan Pendidikan Dalam Al-Qur’an.”

    II.            MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Manusia adalah Makhluk yang berarti sesuatu yang diciptakan. Secara logik dan riil, setiap yang diciptakan tentu ada penciptanya. Dalam islam, pencipta manusia disebut Allah swt. Pernyataan manusia adalah Makhluk dapat diterima oleh manusia dari latar belakang dan tingkat kecerdasan yang berbeda, mulai dari seorang professor sampai tukang becak sekalipun. Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan gambaran yang membicarakan tentang manusia dan makna filosofis dari penciptaannya.[2]
Ø  Proses Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an
Manusia merupakan makhluk-Nya paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Dalam hal ini Ibn ‘Arabi misalnya melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, “tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berfikir dan memutuskan. Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah dimuka bumi.
Banyak sekali ayat Al- Qur’an yang menegaskan bahwa manusia adalah sesuatu yang diciptakan. Konsepsi Islam tentang hakikat manusia yang mendasar telah tercantum dalam al-Qur’an.[3] Manusia diciptakan Allah Swt sebagai makhluk yang paling sempurna, Dalam Surah AT-Tin: 4, yaitu :
ô‰s)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þ’Îû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ
 “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Selanjutnya tentang proses kejadian manusia yang ditinjau dari firman Allah :
ô‰s)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß™ `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR ’Îû 9‘#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜ‘Z9$# Zps)n=tæ $uZø)n=y‚sù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=y‚sù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u‘$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah,  Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim); Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S. al-Mukminun : 12-14)
 Selain itu dapat dilihat juga dalam Surat Al-Faatir, 35:11. Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal. Dengan dikarunia akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah. Dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain, dengan memiliki potensi akal, qolbu dan potensi-potensi lain untuk digunakan sebagai modal mengembangkan kehidupan.
Setidaknya ada tiga kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan makna manusia, yaitu : al-Basyar, al-Insan, dan al- Nas. Meskipun ketiga kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut :
a.                  Kata al-Basyar dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat. Al-Basyar dapat diartikan mulamasah, yaitu persentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan. Makna etimologis dapat dipahami bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan, minum, seks, keamanan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Penunjukan kata al-Basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Demikian pula halnya dengan para rasul-Nya. Hanya saja kepada mereka diberikan wahyu, sedangkan manusia umumnya tidak diberikan wahyu.
Kata al-Basyar juga digunakan Al-Qur’an untuk menjelaskan eksistensi Nabi dan Rasul. Eksistensinya, memiliki kesamaan dengan manusia pada umumnya, akan tetapi juga memiliki titik perbedaan khusus bila dibanding dengan manusia lainnya. Penekanan ini dijelaskan Allah dalam firman-firmannya, seperti pada Q.S Huud/11:27, Al-Israa’/17:93-94, Al-Kahfi/18:110, dan Al-Mu’minuun/23:33-34.
b.                  Kata al- Insan dalam al-Qur’an terdapat sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat. Secara etimologi, dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak atau pelupa.
Kata al-Insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Kata al-Insan digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan proses kejadian manusia sesudah Adam. Kejadiannya mengalami proses yang bertahap secara dinamis dan sempurna di dalam rahim (QS. An Nahl/16:78; QS. Al-Mu’minuun/23:12-14). Penggunaan kata al-insan dalam ayat ini mengandung dua makna, yaitu : Pertama, makna proses biologis, yaitu berasal dari saripati tanah melalui makanan yang dimakan manusia, sampai pada proses pembuahan. Kedua, makna proses psikologis (pendekatan spiritual), yaitu proses ditiupkan ruh-Nya pada diri manusia, berikut berbagai potensi yang dianugerahkan kepada manusia.
c.                   Kata al-Nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat. Kata al-Nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya.
Dalam menunjuk makna manusia, kata al-Nas lebih bersifat umum bila dibandingkan dengan kata al-Insan. Keumuman tersebut dapat dilihat dari penekanan makna yang dikandungnya. Kata al-Nas menunjuk manusia sebagai makhluk sosial dan kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan  mafsadah  dan merupakan pengsisi neraka, disamping iblis.
Disamping ketiga kata tersebut, Allah Swt. Juga mendefinisikan manusia dengan menggunakan kata  bani Adam. Kata ini dijumpai dalam Al-Qur’an sebanyak 7kali dan tersebar dalam 3 surat. Secara etimologi, kata bani Adam menunjukkan arti pada keturunan nabi Adam A.S.
Allah memberikan kebebasan untuk melakukan serangkaian kegiatan yang ada di alam ini secara maksimal. Allah memberikan garis pembatas kepada manusia pada dua alternative, yaitu kemuliaan atau kesesatan. Disini terlihat kasih dan demokratisnya Allah terhadap makhluknya. Hukum kausalitas tersebut memungkinkan Allah untuk meminta pertanggungjawaban pada manusia atas semua aktivitas yang dilakukan.
Ø  Fungsi Penciptaan Manusia
Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan bentuk raga yang sebaik-baiknya dan rupa seindah-indahnya dilengkapi dengan panca indera dan hati agar manusia bersyukur atas apa yang telah Allah anugerahkan. Secara global tujuan & fungsi penciptaan manusia, yaitu :
1.      Khalifah
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat (Q.S Ar Ruum/33:72). Menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi, kata khalifah dalam ayat ini memiliki dua makna, Pertama, adalah Pengganti, yaitu pengganti Allah Swt untuk melaksanakan titah-Nya dimuka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.
2.      ‘Abd (Pengabdi Allah)
Konsep ‘abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah. Secara luas, konsep ‘abd sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas seorang hamba selama ia hidup di alam semesta ini dapat dinilai sebagai ibadah manakala aktivitas itu memang ditujukan semata-mata hanya untuk mencari Ridha Allah Swt. Belajar, Bekerja menjadi ibadah manakala dilakukan untuk mencari Ridha Allah.[4]

 III.            PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL- QUR’AN
Pendidikan Islam merupakan proses transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Manusia adalah hasil dari proses pendidikan. Dengan mudah hal ini dapat direalisasikan manakala salah satu dari unsur-unsur pendidikan ini dikaitkan dengan petunjuk bertingkah laku manusia berkenaan dengan obyek-obyek tertentu. Dapat diketahui, manusia yang benar-benar khalifah Allah adalah manusia yang mempunyai kondisi baik, berperangai halus.
Al-Qur’an telah berkali-kali menjelaskan akan pentingnya pengetahuan. Tanpa pengetahuan niscaya kehidupan manusia akan menjadi sengsara. Tidak hanya itu, al-Qur’an bahkan memposisikan manusia yang memiliki pengetahuan pada derajat yang tinggi. al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 :
Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...”
Dalam sebuah sabda Nabi saw. dijelaskan:
8
“Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)
Islam menekankan akan pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia. Karena tanpa pengetahuan niscaya manusia akan berjalan mengarungi kehidupan ini bagaikan orang tersesat, yang implikasinya akan membuat manusia semakin terlunta-lunta kelak di hari akhirat.
Dalam al-Qur’an surat Thahaa ayat 114 disebutkan:
10
“Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.”
·         Pemerolehan Pengetahuan dan Objeknya (Proses Pendidikan)
Pendidikan Islam memiliki karakteristik yang berkenaan dengan cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan serta pengalaman. Anggapan dasarnya ialah setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrah serta dibekali dengan berbagai potensi dan kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Dengan bekal itu kemudian dia belajar: mula-mula melalui hal yang dapat diindra dengan menggunakan panca indranya sebagai jendela pengetahuan; selanjutnya bertahap dari hal-hal yang dapat diindra kepada yang abstrak, dan dari yang dapat dilihat kepada yang dapat difahami. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam teori empirisme dan positivisme dalam filsafat. Dalam firman Allah Q.s. an-Nahl ayat 78 disebutkan:
12
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.[5]
Namun, pada dasarnya proses pemerolehan pengetahuan adalah dimulai dengan membaca, sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5:
ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Perintah membaca merupakan perintah yang paling penting dan berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia sebagai makhluk yang dapat dan harus dididik. Dari kelima ayat tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan adalah jalan yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna.
Sebagaimana dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 101 disebutkan:
15
“Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi”.
Al-Qur’an membimbing manusia agar selalu memperhatikan dan menelaah alam sekitarnya. Karena dari lingkungan ini manusia juga bisa belajar dan memperoleh pengetahuan.
Dalam al-Qur’an surat asy-Syu’ara ayat 7 juga disebutkan:
16
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”.
Demikianlah, al-Qur’an secara dini menggarisbawahi pentingnya “membaca” dan keharusan adanya keikhlasan serta kepandaian memilih bahan bacaan yang tepat.[6]
·         Tujuan Pendidikan
Dalam Surat Al-Dzariat ayat 56 dijelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah beribadah kepada Allah. Ibadah dalam arti luas adalah segenap gerak hidup, gerak lidah, gerak pikiran maupun gerak anggota badan lainnya dan ditujukan untuk meraih keridaan Allah swt.[7]
Dapat diketui pula Perspektif Al-Qur’an sangat berperan penting di dalam Proses pendidikan , karena tanpa suatu konsep atau pedoman dari Al-Qur’an , maka pendidikan akan meraba-raba. Selain itu, Implikasi dari konsep manusia yang telah kami paparkan tadi yaitu fungsi dari penciptaan manusia, yang mana dari fungsi secara umum tersebut dapat terimplikasi dalam hubungannya dengan Pendidikan Islam, yaitu :
§  Manusia adalah makhluk yang bersumber dari dua komponen (materi dan inmateri), maka konsepsi ini mengacu pada arah realisasi  dan pengembngan komponen-komponen.  Maka dari itu, harus dibangun atas konsep kesatuan antara pendidikan Qalbiyah dan ‘Aqliyah  sehingga bisa mencetak manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Dan jika kedua komponen ini terpisah, maka manusia akan kehilangan keseimbangan dan tidak akan pernah menjadi pribadi-pribadi yang sempurna (al-insan al-kamil).
§  Allah membekali seperangkat potensi kepada manusia, maka dari itu pendidikan terutama pendidikan islam haruslah mengupayakan  yang ditujukan kearah pengembangan potensi yang dimilikinya  secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti dapat memberikan manfaat kepada semua orang, karena Hadits Nabi mengatakan; Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat terhadap sesama.[8]
Jadi, agar Suatu Pendidikan, terkhusus Pendidikan Islam umat berhasil dalam prosesnya, maka konsep penciptaan dan fungsi penciptaan manusia yang telah kami paparkan, harus sepenuhnya di akomodasikan dalam rumusan teori-teori Pendidikan Islam. Agar suatu tujuan pendidikan yang dilakukan oleh Manusia dapat tercapai sesuai dengan pedoman dan sandarannya yaitu Al-Qur’an.

 IV.            Kesimpulan
Dari Uraian diatas dapat dipahami bahwa Manusia adalah Makhluk yang Allah swt berikan fitrah nya untuk mengemban amanah dan mengabdi Allah swt. Untuk bisa mencapai tersebut maka Suatu konsep pendidikan sangatlah penting. Selain itu, bahwa al-Qur’an telah memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita tentang konsep pendidikan yang komperehensif. Yaitu pendidikan yang tidak hanya berorientasi untuk kepentingan hidup di dunia saja, akan tetapi juga berorientasi untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak. Karena kehidupan dunia ini adalah jembatan untuk menuju kehidupan sebenarnya, yaitu kehidupan di akhirat.
Pengetahuan yang didapat dalam proses pendidikan dalam aktivitas manusia sudah seyogyanya diorientasikan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia seluruhnya. Namun, tidak lepas dari itu, bahwa manusia juga hidup berdampingan dengan sosial atau lingkungan, sehingga tidak bisa serta merta kemajuan pengetahuan pengetahuan dan teknologi malah menghancurkan dan merusak keseimbangan alam. Karena sudah menjadi tugas manusia untuk melestarikan alam ini sebagai pewaris kekhalifahan manusia sekaligus bentuk ketaatan nya kepada Allah swt.


    V.            DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,Saleh, Abdurrahman. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an.  Jakarta: Rineka  Cipta. 2005.
Aly, Noer, Hery & Suparta, Munzier. Pendidikan Islam Kini dan Mendatang. CV. Triasco.  Jakarta. 2003.
Gojali, Nanang.  Manusia, Pendidikan Dan Sains. Cianjur: Rineka Cipta. 2004.
Nizar,Samsul. Filsafat Pendidikan Islam(Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers. 2002.




[1] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam(Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis), (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), Hlm. 17.
[2] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), Hlm. 45.
[3] Samsul Nizar, Op.cit.,Hlm. 1.
[4] Samsul Nizar, Ibid., Hlm. 2-20.
[5] Hery Noer Aly & Munzier Suparta, Pendidikan Islam Kini dan Mendatang, (Jakarta: CV. Triasco, 2003), Hlm. 109.
[6] Nanang Gojali, Manusia, Pendidikan Dan Sains, (Cianjur :Rineka Cipta, 2004), Hlm. 132-137.
[7] Nanang Gojali, Ibid., Hlm. 155.
[8] Samsul Nizar, Log.Cit., Hlm. 21-23.